Cara Triple Boot dengan PhoenixOS (Windows + Linux + PhoenixOS)

Assalamu’alaikum 🙂

Beberapa waktu atau tahun yang lalu, sempat di hebohkan dengan kemunculan OS Desktop turunan dari Android-x86 yang berpenampilan/memiliki GUI seperti Windows 10, yakni Remix OS. Tapi, sayangnya, pada Bulan Juli 2017 yang lalu, pihak Jide ‘mensuntik mati’ Remix OS dan fokus ke ranah Enterprise, sedih yak 🙁

Sekarang, saya akhirnya malah jadi menginstall Phoenix OS yang satu-satu nya alternatif dari Remix OS Desktop. Ya, saya tadinya mau pengen menginstall Remix OS ini, tapi saya kaget kalo ada berita semacam ini, tadinya saya kira itu rumor belaka. Ehhh, malah bener-bener terjadi 😀

Terpaksa akhirnya saya install PhoenixOS sebagai alternatif dari Remix OS (meski ada Bliss OS, tapi saya baru tahu itu 🙂 ), karena saya sudah Dualboot dengan Linux Mint (Windows 10 + Linux Mint). Jika ingin melakukan Triple Boot (atau lebih) dengan OS berbasis Android-x86, mungkin agak di perlukan “Perlakuan khusus” untuk itu.

Anda yang saat ini Dualboot antara Windows dan Linux, jika ingin menginstall OS turunan Android-x86 dan melakukan Triple Boot dengan nya, pasti tidak bisa dengan cara yang sembarangan pula. Lalu, bagaimana caranya? Silahkan baca artikel nya 🙂

Sanggahan & Peringatan :

Ini merupakan Tutorial yang berdasarkan pengalaman saya, yang mana itu beresiko cukup sampai tinggi. Resiko yang paling utama adalah kehilangan data pada Harddisk anda (baik karena kesengajaan, keteledoran, karena saat proses partisi, PC dan Laptop mendadak mati, bencana alam, dll), jika anda tidak benar-benar mengikuti tutorial ini dengan baik.

Saya tidak bertanggung jawab atas kehilangan data anda dan segala kerusakan yang timbul setelah mengikuti tutorial ini, silahkan baca pernyataan Sanggahan yang telah saya buat untuk lebih lanjut.

Jadi, di mohon untuk membackup terlebih dahulu jika anda ingin mengikuti tutorial ini, saran saya gunakanlah Harddisk Eksternal untuk melakukan Backup. Jika anda tidak ahli dalam mempartisi Harddisk, silahkan konsultasi terhadap orang ‘terdekat’ anda dan di dampingi oleh mereka.

Baca artikel ini = Setuju dengan Pernyataan ini !

Persiapan

Sebelum melakukan instalasi, maka baiknya anda mempersiapkan sesuatu terlebih dahulu. Persiapan ini sangat berguna untuk menginstall PhoenixOS nanti. Persiapannya sebagai berikut:

  • File ISO dari PhoenixOS, bisa anda download melalui Halaman Web Resmi nya
  • HDD Free (di Partisi yang paling besar) minimal adalah 32 GB, sebab siasanya untuk data anda lainnya
  • RAM minimal 1 GB untuk versi 32-bit atau 2 GB untuk versi 64-bit, atau lebih baik di atasnya
  • Memiliki Distro Linux dan memiliki GRUB Bootloader (Ya, iyalah 😀 )
  • GRUB-Customizer (cara install nya di langkah pertama)
  • Aplikasi squashfs-tools untuk membuka file “system.sfs”, di Debian, Ubuntu, Linux Mint dan Turunannya, anda bisa menginstallnya dengan mengetikkan/copas sudo apt update && sudo apt install squashfs-tools atau jika anda ingin menggunakan apt-get maka silahkan, menjadi sudo apt-get update && sudo apt-get install squashfs-tools
  • Pastikan Aplikasi GParted terinstall, karena saya disini menggunakan GParted untuk melakukan Partisi. Jika belum, di Debian, Ubuntu, Linux Mint dan Turunannya, anda bisa mengetikkan sudo apt install gparted di Terminal Linux untuk menginstall GParted. Tapi, kalau kamu mau pake yang lain ya silahkan, selama itu nyaman buat kamu 🙂

Nah, itulah persiapan yang harus kamu persiapkan (meskipun ada yang gak wajib), untuk melakukan instalasi PhoenixOS. Berikut ini merupakan Langkah-langkah dari Instalasi PhoenixOS

 

Langkah Pertama: Install GRUB Customizer di Linux

Ya, ini merupakan langkah pertama dari melakukan Triple Boot dengan PhoenixOS, yakni anda install terlebih dahulu GRUB-Customizer, ini berguna untuk mengatur/meng-kustomisasi kan Boot Loader GRUB yang ada di Distro Linux anda. Anda bisa menambahkan Menu Boot Loader nya lewat situ. 

Untuk cara install nya di Ubuntu (atau turunan Ubuntu seperti Linux Mint, dll) itu sangat lah mudah, pertama-tama, anda buka terlebih dahulu Terminal nya dan berikan akses root dengan mengetikkan sudo su atau sudo -i dan masukkan password dari username yang anda gunakan.

Lalu, anda tinggal ketikkan (atau Copy Paste ?) perintah berikut (salah satu):

sudo add-apt-repository ppa:danielrichter2007/grub-customizer && \
sudo apt update && \
sudo apt install grub-customizer

Atau, kalau mau pake apt-get ya, silahkan, anda bisa ketikkan (atau Copy Paste ?) perintah berikut:

sudo add-apt-repository ppa:danielrichter2007/grub-customizer && \
sudo apt-get update && \
sudo apt-get install grub-customizer

Intinya sama aja, kok, cara install nya 🙂

Tenang, itu kompatibel, kok, sama Ubuntu versi terbaru dan turunannya, hehe 😀

Jika kamu merasa barisan syntax (terutama baris ke-1/baris pertama) nya tertutup dengan judul, maka anda bisa gunakan opsi “Open Code in New Window” di sebelah tulisan “Shell”. Atau, bisa gunakan fungsi Copy disitu 🙂

Kalo kamu menggunakan Distro Linux selain Ubuntu dan Turunannya, maka kamu perlu mencompile nya sendiri, silahkan baca halaman FAQ nya disana agar membantu kamu untuk menginstall GRUB-Customizer dengan mencompile nya.

Atau, bisa kamu cari di Google kalau mau pakai metode termudah nya 🙂

Nah, itulah langkah pertama nya, langkah selanjutnya untuk melakukan partisi Harddisk, ini sebenarnya gak wajib, cuman saya sarankan agar tidak terlalu berimbas pada partisi lainnya nanti.

 

Langkah Kedua: Mempartisi Harddisk (Gak Wajib, tapi Disarankan)

Ya, langkah selanjutnya adalah Membuat partisi Harddisk khusus untuk PhoenixOS. Memang ini gak wajib, tapi di sarankan agar tidak berimbas data di partisi Harddisk lainnya dengan memisahkan data yang ada sebelumnya dengan data yang baru, dan sebenarnya saya sendiri juga belum pernah Install PhoenixOS tanpa melakukan partisi Harddisk, hehe 😛 

Jadi, kalo anda ingin menginstall PhoenixOS tanpa melakukan Partisi Harddisk, Skip saja langkah ini dan menuju ke langkah berikutnya dengan klik halaman selanjutnya. Lalu, anda ikuti cara nya 🙂

Cara membuat partisi Harddisknya sebagai berikut :

  • Untuk melakukan partisi pada Harddisk, anda bisa gunakan Manager Partisi Bawaan dari Distro Linux anda, seperti GParted, KDE Partition Manager, dll. Tapi, pada di tutorial ini, saya memakai GParted di Linux Mint dengan Tema Ikon Adwaita.
  • Lalu, anda buat partisi baru dengan me-resize dari partisi yang memiliki Free Space yang paling besar. Setelah itu, nanti ada muncul partisi baru yang berstatus “unallocated” disana.
  • Setelah itu, Klik kanan pada partisi itu, lalu klik “New” atau bisa juga dengan pilih partisi tersebut, lalu klik ikon kertas berbintang di sebelah kiri ikon silang, berikut screenshot nya:
Cara Triple Boot dengan PhoenixOS

Seperti yang di tunjuk oleh anak panah

  • Isikan Partition Name dan Label nya, bisa bebas atau keinginan anda, sedangkan yang lain seperti “Free Space preceding”, “Free space following” nya itu anda biarkan saja
  • Untuk File System, saya sarankan untuk menggunakan Ext3 atau Ext4, karena File System seperti HFS, HFS+, exFAT, dll itu tidak di dukung oleh Android-x86. (Atau, mungkin karena saya belum coba 😛 ) 
    Untuk NTFS (atau File System yang di buat oleh Microsoft) itu tidak mendukung Linux File Permission (CHMOD), sedangkan Android membutuhkannya untuk beberapa kasus (seperti rooting), dan untuk menggunakan NTFS, maka perlu adanya penambahan saat konfigurasi Bootloader nya nanti dan itu tidak akan saya bahas di artikel.
    Dan, untuk File sistem berbasis FAT (FAT16, dan FAT32) itu tidak saya rekomendasikan karena menurut banyak orang, selain memiliki banyak keterbatasan, kinerjanya bisa tidak maksimal. (kecuali untuk exFAT)

Silahkan Isikan Partition name dan Label yang masih kosong 🙂

  • Di bawah ini adalah contoh settingan partisi saya. Setelah itu, anda klik “Add” jika sudah selesai, di bawah ini adalah screenshot nya 🙂
    NB: Untuk “Create as” nya, bisa anda ganti di antara Primary Partition atau Logical Partition. Jika Mode Boot anda menggunakan Legacy/BIOS, maka saran saya gunakanlah Logical Partition, sebab Firmware BIOS hanya mendukung skema partisi MBR, dan MBR sendiri hanya bisa membuat 4 Primary Partition saja, tidak bisa lebih. Sedangkan, jika anda memakai UEFI dan Skema Partisi GPT, maka anda dapat membuat sampai dengan 128 Primary Partition. 
    Jika Motherboard anda mampu dan mendukung Firmware UEFI, maka silahkan anda baca Artikel saya sebelumnya, yakni Cara merubah Windows 10 dari Legacy ke UEFI untuk lebih lanjut.

Ini contoh setelah mengisi Partition name dan Label, setelah itu klik “Add”

  • Nah, setelah selesai di Add, maka partisi yang tadinya “unallocated” berubah menjadi partisi yang sudah di alokasikan (bisa anda lihat screenshot nya di bawah). Anda tinggal klik pada ikon Centang untuk menerapkan semua perubahan pada partisi Harddisk anda, contohnya bisa anda lihat pada screenshot berikut di bawah ini:

Setelah selesai di tambahkan tadi, yang tadinya “unallocated” menjadi seperti di lingkaran ini, dan anda dapat mengklik yang di tunjuk anak panah 🙂

Nah, itulah cara membuat partisi Harddisk di GParted, mudah bukan? Tapi, sebelum anda menginstall PhoenixOS, maka baiknya anda mengetahui/menghafal terlebih dahulu letak partisinya.

Bagaimana caranya? Coba anda perhatikan pada screenshot di atas, anda melihat ada tulisan kolom pada tabel “Partition” seperti /dev/sdXY (‘X’ bisa anda ganti dengan huruf lainnya yang kecil dan ‘Y’ nya bisa di ganti dengan angka). Nah, itu adalah letak/posisi partisi tersebut yang wajib anda hafalkan sebelum menginstall PhoenixOS.

Bagaimana cara install PhoenixOS nya? Silahkan anda baca di halaman berikutnya 🙂

Mungkin Anda juga menyukai